Asal-Usul Malam Tahun Baru Imlek


Malam tahun baru adalah malam istimewa bagi orang-orang Cina di seluruh dunia. Pada malam itu semua anggota keluarga berkumpul dan perjamuan makan besar diadakan. Perjamuan pada Malam Tahun Baru disebut Nian Ye Fan atau Tuan Yuan Fan. Dalam acara itu semua orang berbagi cerita tentang kebahagiaan dan keberhasilan merek.

Pada Malam Tahun Baru orang-orang tua membagikan angpau kepada anak-anak dan anggota keluarga yang belum menikah. Kemudian mereka semua mengobrol sampai larut. Ketika lonceng berdentang dua belas kali, mereka menyambut Tahun Baru dengan menyalakan petasan.

Pada hari pertama tahun baru orang-orang Cina bersembahyang memohon kesehatan dan rezeki sepanjang tahun.

Nah berikut ini cerita asal usul Malam Tahun Baru Imlek

Pada zaman dahulu, di Cina ada banyak desa. Setiap tahun selama musim semi, orang-orang desa sibuk menanam padi. ..Pada musim gugur, mereka memanen padi, Hasil panen itu disimpan dalam lumbung sebagai persiapan menghadapi musim dingin. Setiap kali musim dingin tiba, penduduk desa merasa sangat cemas. Mereka takut makhluk aneh akan datang ke desa mereka.

Makhluk ini sangat mengerikan. Di kepalanya ada lima tanduk tajam. Sepasang matanya menyorot tajam. Gigi dan kukunya juga tajam. Makhluk ini sangat kuat. Kalau dia berjalan, bukit-bukit dan rumah-rumah roboh diinjaknya. Lebih gawat lagi, dia suka menangkap dan memakan manusia ! Orang-orang desa memperhatikan bahwa makhluk itu hanya muncul setahun sekali. Dia datang pada malam tahun baru dan menghilang tepat pada tengah malam. Orang-orang desa menyebut makhluk itu Nian, yang artinya tahun.

Pada malam tahun baru, semua orang desa mengunci diri di rumah. Mereka berdoa semoga mereka selamat dari serangan Nian. Ketika Tahun Baru tiba,barulah mereka berani keluar rumah. Mereka yang lolos dari maut merasa sangat bersyukur dan saling mengucapkan “Gong Xi ! Gong Xi ! Selamat ! Selamat !

Orang-orang desa mengadakan perayaan selama lima belas hari. Setelah itu mereka bekerja dan menanam padi lagi. Sepanjang tahun mereka sibuk, tapi ketika Tahun Baru hampir tiba, merka kembali dicekam tetakutan. Setelah bertahun-tahun menjadi sasaran Nian, orang-orang desa tak tahan lagi. Mereka berkumpul untuk mencari jalan keluar. Mereka ingin mengusir Nian selama-lamanya dari desa mereka. Tapi bagaimana caranya ? Ada yang mengusulkan agar Nian dibunuh saja. Tapi usul itu ditolak oleh orang-orang yang menganggap Nian sebagai utusan Tuhan. Mereka takut Tuhan marah jika makhluk itu dibunuh. Orang-orang desa itu jadi kebingungan. Mereka tak dapat mecapai kata sepakat. Beruntung ada Guru Zhao, cendekiawan di desa itu. Guru zhao dengan tegas mengatakn bahwa Nian adalah makhluk jahat, bukan utusan Tuhan.

“Tuhan memberkati dan melindungi kita. Dia tidak mungkin mengirim makhluk seperti Nian untuk membunuh kita,” guru Zhao menjelaskan.

“Kurasa Nian takut pada benda apa pun yang berwarna merah,” tambah pria lain. “Dua tahun lalu aku memasang lampion dan kain merah di atas pintu rumahku. Nian tidak menyerang rumahku. Tapi dia menghancurkan rumah-rumah tetanggaku yang tidak dilindungi lampion dan kain merah.”

Seorang pemuda berkata, “Aku dan teman-temanku menari Barongsai pada Malam Tahun Baru. Ketika melihat Nian, kami memukul gong dan tambur dengan lebih keras. Nian ketakutan dan lari ke hutan.”

“Sekarang kita tahu apa saja yang ditakuti Nian,” kata Guru Zhao. “Nian takut pada benda-benda berwarna merah, petasan, dan bunyi gong serta tambur. Jadi mulai sekarang, menjelang tahun baru setiap rumah harus memasang lampion dan kain merah. Juga menyediakan petasan. Sementara para pemuda bersiap-siap mengusir Nian dengan tarian Barongsai.”

Orang-orang desa itu pulang dan bersiap-siap. Para ibu membuat ikat pinggang merah untuk seluruh anggota keluarga mereka. Para ayah memasang lampion dan kain merah di atas pintu rumah mereka. Para pemuda membentuk kelompok-kelompok Barongsai dan berlatih memukul gong serta tambur.

Malam tahun baru tiba. Semua orang sangat bersemangat. Mereka memakai ikat kepala atau ikat pinggang merah. Bapak-bapak membawa senjata seperti pedang, tombak, busur, dan anak panah. Anak-anak membawa petasan. Mereka semua sudah siap untuk mengusir Nian. Sekarang orang-orang desa itu tak takut lagi pada Nian. Mereka bertekad untuk melawannya. Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba ! Nian datang ! Orang-orang desa segera menyalakan petasan. Semuanya meledak dengan bunyi yang memekakkan telinga. Gong dan tambur dipukul keras-keras. Pedang dihunus dan tombak siap ditikamkan.

Nian sama sekali tak menduga dirinya akan diserang secara mendadak begitu. Dia mengerang kesakitan ketika pedang dan tombak bertubi-tubi menghunjam tubuhnya. Lebih-lebih, ketika hujan anak panah menerpanya. Dengan ketakutan dia berlari pulang ke tempat asalnya. Orang-orang desa sangat gembira.

Sejak itu, setiap tahun baru orang-orang Cina menghiasi rumah mereka dengan lampion dan kain merah. Mereka juga merayakan Tahun Baru dengan tarian Barongsai dan petasan

 

Sumber : Buku Dongeng Rakyat Cina “Awas ! Nian Datang !”

Categories: Sejarah | Tags: , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: